Bermula dari tatap kini aku ingin mengisi sebagian hidupku dengan menulis. Menuliskan tentangku, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Tentangku yang hanya bisa menatap dan memperhatikanmu dari belakang tirai layaknya orang Bodoh. Tentang perasaanku yang hanya aku simpan dalam diamku. Memendamnya tanpa bicara, setia menyimpannya meski terkadang luka turut hadir, menyembunyikannya meski air menetes titik demi titik di pelupuk mata. Ingin memberanikan diri namun terlalu ciut untuk berucap. Kini, aku hanya bisa menuliskannya.
Selasa, 26 Januari 2016
Jumat, 22 Januari 2016
GITHUB Groupware
“Berbagi tidak selamanya merugi”
Hahaha... kalimat diatas hanya
sebatas gabungan kata dengan makna cukup besar. Tapi bergantung juga pada orang
yang memaknainya. (selingan semata).
Sekarang, aku ingin sedikit
berbagi tentang penggunaan salah satu Groupware yang cukup populer untuk
membantu khususnya bagi para Programer-progamer kece nan aduhai yang berada di
tempat yang berbeda namun mereka masih bisa saling bekerja untuk mencapai
tujuan yang sama (HIDUP NGODING. “apaan sih?? :/ ”).
Salah satu Groupware yang pengen aku share adalah
GitHub. Ada yang tau apa itu GitHub?? Sebagian dari kalian para pembaca mungkin
sudah tau yaa... jd gausah dijelaskan lagi. Hahaha. Engga deng, aku bakal kasih
tau nih apa itu GitHub. Tapi sebelum ke pengertian GitHub kita pertu lau dulu
apa itu Git. Git adalah sebuah Version Control System (VCS) yang digunakan
dalam tim pengembangan perangkat lunak untuk bekerja bersama. Github
adalah software Hosting untuk proyek
open source yang menggunakan Tool System revisi kontrol Git (Adiputra, 2015) . Simplenya, GitHub ini merupakan sebuah
jejaring sosial untuk para pembuat atau pengembang suatu project. Nah lewat
GitHub ini, kita bisa saling share berupa kodingan
pekerjaan yang akan dikerjakan secara bersama-sama meski di tempat berbeda
dengan jarak sejauh apapun itu.
Yuk Cekidot ke langkah-langkah
penggunaannya :
1. Pembuatan
akun GitHub
gambar
1 situs untuk membuka GitHub
Untuk pembuatan akun, kunjungi
situs www.github.com.
Lalu klik SignUp untuk registrasi
awal (membuat akun GitHub). Selanjutna akan muncul form pengisian data seperti
pada Gambar 2.
gambar
2 pengisian data untuk akun GitHub
Lalu pilih
personal plan. Kalo aku disini pilih yg 0/month.
gambar 3 pilihan plan
gambar 4 pengisian data
Nah, setelah
itu kamu bisa cari temen2 (partner kerja) kamu pengguna GitHub lainnya.
gambar
5 pencarian teman
Pembuatan
akun sudah rebessss....
1. Unduh
SourceTree
SourceTree merupakan
sebuah layanan atau salah satu tools Git untuk mengakses GitHub dengan GUI. Untuk
mengunduh SourceTree, https://www.sourcetreeapp.com/download/
.
2. Membuat Repository
Kita bisa bikin repository baru pada website www.github.com
setelah kita melakukan login dengan akun yang sudah kita buat tadi. Tahap ini
digunakan untuk membuat folder project yang akan kita kerjakan secara tim. Oh iya,
sebelumnya jangan lupa untuk konvirmasi GitHub di email kalian yaa...
gambar
6 tampilan github setelah kita konfirmasi email
Klik “ + New Repository ” lalu kita akan dihadapkan dengan
pengisian data pembuatan repository baru seperti pada gambar 7.
gambar
7 new repository
Kenapa pada pembuatan new
repository aku pilih public? Karena agar project yang aku bikin ini bisa
dilihat atau diakses juga oleh partner kerjaku nanti.
gambar 8 tampilan setelah selesai membuat
new repository
Yeeeaaayyy....
baru selesai bikiin repository nya T_T .... Yuk lanjut ke langkah selanjutnya
yoooo...
1. Invite
Participant
Untuk mencapai
tujuan kerja, jangan lupa untuk mengajak participan yang akan diajak bergabung
sebagai partner agar bisa saling mengontrol satu sama lain pekerjaan yang
dikerjakan.
2. Buat Folder
Langkah selanjutnya adalah kita membuat folder di PC
kita bebas mau disimpan dimana.
gambar
9 penyimpanan project
1. Clone
Repository
Copy link/SSH/http
repository yang ada pada GitHub setelah kita selesai membuat repository baru
misalnya https://github.com/rpalmin26/belajarGitHub.git
. Lalu open app SourceTree seperti pada gambar 10.
gambar 10 pembuatan Clone
a. Klik Clone/New
untuk membuat clone yang baru
b. Paste link
yang sudah di copy tadi ke Source Path/URL
c. Pada destination
Path, kalian bisa pilih di folder mana kalian akan simpan project tersebut. Kalo
aku, aku simpan di Folder “COBAGIT” yang sebelumnya aku bikin.
*folder yang
digunakan harus folder yang kosong
d. Klik Clone. Tunggu
sampai proses selesai
gambar
11 proses pembuatan Clone
gambar
12 proses Clone Sukses
1. Membuat File
Buat file
(file .txt, .c, .jpg, .png atau apapun) yang akan kita pull/upload di folder
yang sudah kita buat tadi.
gambar
13 membuat file
1. Commit File
gambar 14 tampilan setelah file dimasukkan
dalam folder
Jika sudah menambahkan file di
folder yang sudah di buat, maka file-file tersebut akan ada di bagian A. Lalu ceklis
file yang ada di A secara otomatis file2 tersebut akan pindah ke bagian B. Atau
jika tidak, DRAG file yg di A ke bagian B. Setelah itu, Commit file2 tersebut
sebagai tanda adanya perubahan pada folder atau file, seperti pada Gambar 15.
gambar 15 commite file
1. Push File (unggah)
Setelah selesai commit, langkah selanjutnya
adalah Push jika kalian akan mengupload file ke repository. Setelahnya klik
push file akan terunduh. Dan file bisa di pull (unduh) oleh participant yang
sudah kalian semua tentuin.
Oh iya
Gaiissss.... perlu diingat. “Sebelum
kita melakukan PUSH, kita harus melakukan PULL dulu yaaa”
Nah kek gitu gaiss segelintir tentang GitHub. Semoga bisa membantu dan berguna yaaa...
Dadaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh...............
Sabtu, 28 November 2015
Aku Mencintai
Mencintai. Rasanya kata itu sudah tidak asing lagi.
Aku yakin, setiap orang pasti pernah merasakannya. Usiaku kini 21. Dulu aku
pernah mencintai seorang pria layaknya remaja-remaja lain. Saat itu aku berusia
17. Masa yang terbilang normal untuk jatuh cinta. Indahkah kisah cinta saat
itu? Jika ada yang bertanya seperti itu, maka jawabanku adalah “Ya”. Namun,
bahagia itu hanya bertahan sekitar 2tahun hingga akhirnya kami memutuskan untuk
berhenti karena sesuatu hal.
Sejak itu aku mulai terbiasa sendiri. Sepikah aku? Akupun
tak bisa munafik. Tapi, yasudahlah ini yang terbaik. Jika hal ini tidak
terjadi, mungkin saja aku tak akan merasakan rasa yang begitu hebat dari
sebelumnya. Rasa yang entah apakah orang lain pernah merasakannya atau tidak. Rasa
itu hadir di awal bulan Februari’13.
Aku kira, aku tidak akan pernah mencintai lagi
setelah kejadian menyakitkan sebelumnya. Tapi Tidak, sampai akhirnya aku
melihat ke arahmu. Perasaanku sungguh konyol. Aku pendam perasaan itu sebisa
mungkin. Membiarkannya tetap tumbuh hanya dalam hatiku. Apa aku jatuh cinta? Entahlah,
aku tak berani untuk memutuskan. Aku terlalu takut untuk jatuh cinta saat itu. Aku
takut jatuh dalam arti sebenarnya. Jadi, aku biarkan saja rasa itu hanya
sebatas ada.
Mungkin kamu tak pernah tau seperti apa rasanya saat
aku berhadapan denganmu, saat aku berbicara denganmu, saat kamu memanggilku dan
saat kamu duduk disampingku. Aku berusaha tuk tampak biasa saja.
Selasa, 10 November 2015
ALL ABOUT AMMI
Bermula dari catatan
kosong, kertas itu teramat putih bersih. Mamaku punya cerita sendiri tentangku.
Ia selalu membawaku kemanapun ia pergi. Dijagalah aku dalam perutnya. Asupan
gizi yang ia beri lewat makanan semakin membuatku tumbuh tiap bulannya. Aku
memakannya lahap “nyam nyam nyam”. Ia tak pernah sembarangan memasukkan makanan
dan minuman kedalam tubuhku. Makanan yang ia makan tak jauh dari kriteria 4
sehat 5 sempurna. Minuman yang ia minum hanya sebatas air putih dan minuman buah
agar kesehatanku tetap terjaga.
Perut mama semakin
besar, tak pernah terbayangkan olehku seberat apa waktu itu mama menggendongku
didalam perutnya. Sembilan bulan sudah aku dalam perutnya hingga sudah saatnya
aku muncul. Perut mama semakin terasa sempit karna tubuhku yang semakin tumbuh.
Hingga pada saat itu di “Kamis, 2 Juni
1994” mama bertarung dengan maut. Aku berharap saat itu cepat-cepat keluar
dari perutnya agar sakit yang ia rasakan tidak terlalu lama.
Dan kemudian “huaaww
huaaww huaww” tangisanku terdengar olehnya. Bapakku segera menghampiri tubuh
mungilku. Didekatkannya suara indah itu di sebelah kuping kananku. Kumandang
adzan bapakku begitu merdu membuat aku berhenti menangis. Begitu tenang.
Dilanjutkannya suara qamat ditelinga kiriku. Sambil menangis bapakku berkata “anak kita perempuan, dia cantik, bersih,
wajahnya bercahaya. Keinginanmu terkabul”. Ya keinginan mama kini terkabul.
Betapa bahagianya ia melahirkanku setelah lama ia mendambakan seorang anak
perempuan yang begitu mungil ketika bapak sangat mendambakan seorang anak
laki-laki dari Rahim seorang mama. Meski begitu, bapak tetap bahagia akan
kelahiranku. Kecintaan bapak pada mamaku ia tanamkan pada namaku. Ia memberiku
nama “Rahmi Mulyani” yang berarti “Kasih Sayang Mulia” Amin. Itulah do’a
yang mereka simpan pada namaku, berharap aku menjadi anak yang penyayang dan
menyayangi dengan setulus-tulusnya.
Waktu berlalu begitu
cepat setelah kelahiranku. Kini aku menginjak usia 5 tahun. Mama dan Bapak
banyak mengajariku berbagai hal. Dihukumnya aku ketika aku Shalat tak tepat
waktu. Dihukumnya aku ketika aku menolak untuk mengaji. “Mereka Galak Sekali”
pikirku. Aku disekolahkan di TK.Aisyah.
sebuah taman kanak-kanak Islam. Disana aku belajar mengaji, tata cara Shalat,
membaca, berhitung, bernyanyi, menari dan masih banyak lagi yang aku pelajari.
Aku sudah sebesar ini, kini aku mulai banyak permintaan. Merengek-rengek
meminta sesuatu. Aku ingin seperti anak-anak lain. Aku ingin ulang tahunku
dirayakan, aku ingin dibelikan sepeda, aku ingin diantar jemput ke sekolah.
Tapi sebelum keinginan-keinginan itu muncul, mereka lebih dulu berkata “Mi, kita bikin nasi tumpeng yu. Nanti
nasinya dibagi-bagi sama temen-temen ami di deket rumah nenek. Nanti kalian
ngaji bareng, jadi ami dido’akan banyak orang J”. “Mi, ayo
belajar naik sepeda sama bapak nanti sore. Tapi pake sepeda Teh Ai (kakak sepupu) dulu. Nanti kalo sudah
mahir, Mama sama Bapak belikan ami sepeda baru”. “Mi, nanti pulangnya naik becak aja ya. Mama sama Bapak tunggu di toko.
Buat ongkosnya nanti ami ke toko dulu”. Teringat semua perkataan itu, aku
akhirnya tak berani meminta. Padahal aku ingin sekali ulang tahunku dirayakan.
Tiup lilin, potong kue, ada yang nyanyi, dicium Mama dicium Bapak, dikasih
kado. Tapi setiap tahunnya aku hanya merayakan bareng nenek, kakek dan
teman-teman dekat rumah nenek saja. Jangankan bisa merayakan Ulang Tahun
bersama mereka, Mengucapkan Selamat Ulang Tahun saja rasanya tak pernah.
Inilah nenekku dan Ami si tomboy .
Di 5 Tahun Pertama, mama
harus berjuang kembali untuk kelahiran adikku. Akhirnya aku akan punya teman.
Dan jeng-jeng-jeng… dialah adik perempuanku dengan nama “Fini Dwi Fajraini” . Masa
SD ku kini tiba. Ami si kecil mungil nan lugu berubah menjadi Ami si kecil nan
nakal. Aku memang seorang perempuan tapi kelakuanku seperti anak laki-laki.
Orang-orang menyebutku “anak tomboy’
saat itu. Mungkin karena aku sering berpakaian seperti laki-laki dengan kaos
dan celana pendek selutut yang longgar juga rambutku yang selalu pendek karena mama
sering memotongnya dengan alasan “agar tidak panas”. Aku sedikit heran memang,
bukankah dulu Mama inginkan anak perempuan? Tapi kenapa banyak dari pakaianku
tak seperti pakaian perempuan? Pake rok misalnya. Atau memanjangkan rambutku
tergerai agar bisa dikepang atau diikat. Kini aku merasa semakin mandiri. Berangkat
sekolah sendiri, pulang sekolah sendiri, makan sendiri, belajar sendiri, tapi
kalo ada PR matematika aku kasihkan ke Bapakku biar bapak yang kerjakan dan aku
tidur agar subuhnya bisa bangun dan diajarkan Matematika yang Bapak kerjakan.
Pulang sekolah aku berkunjung kerumah hanya untuk ganti pakaian, makan dan
solat (dan tidak ada siapa-siapa di rumah),
baru kemudian pergi ke rumah nenek untuk bermain dan tidur siang. Begitulah hal
yang aku lakukan selama di Sekolah Dasar. Mama dan Bapak tak pernah cukup waktu
untuk berada terus bersamaku karna mereka harus menghabiskan waktu setengah
hari di toko. Orangtuaku adalah seorang pedagang. Mereka mempunyai toko
pakaian. Aku juga sesekali ikut membantu saat hari libur.
Aku bosan. Yang kujumpai
hanyalah nenek tersayang. Dia sudah seperti seorang Ibu untukku. Karna Mama
harus berfokus pada anak barunya. Adikku semakin tumbuh. Di 5 tahun keduaku, mama
melahirkan seorang anak laki-laki. Mama bertarung untuk yang ketiga kalinya.
Dia benar-benar hebat. Adik laki-lakiku diberi nama “Muhammad Zulfiana Ilyas”.
Karna aku sudah dianggap cukup besar, meski baru kelas 5SD aku dipercaya mama
untuk membantu menjaga jagoan yang satu ini. Adikku yang paling bontot, lebih
sering pergi bersamaku. Aku selalu menghabiskan waktuku setelah sepulang
sekolah dengannya dan mama percaya aku menjaganya. Kadang Aku juga ditemani
adik perempuanku. Aku semakin sering menggunakan waktuku dengan mereka di
rumah. Kini aku sudah jarang bermain di rumah nenek. Tapi sesekali kami bertiga
kesana. Adik-adikku semakin lama semakin tumbuh begitupun denganku. Kini mama
menaruh perhatiannya pada adik-adikku. Begitupun Bapakku. Dia senang sekali
dengan kehadiran Zulfi.
Aku memasuki masa SMP.
Ketika masa ini, aku lebih sering menghabiskan waktu bersama nenekku. Karna
adik-adikku juga sudah mulai bermain sendiri. Mama dan Bapak sudah mengajari
kami hidup mandiri sejak kecil meski tidak diajarkan lewat perkataan secara
langsung. Mulai dari sini kehidupanku terasa semakin sendiri. Ketika ternyata
nenekku meninggalkan aku untuk selamanya. Semakin sendiri saja aku. Tak ada
tempat pijakan. Hanya dirumah tanpa kujumpai Mama dan Bapak disana tiap kali
pulang sekolah. Kebiasaan seperti ini berlanjut hingga aku SMA. Aku bertemu
mereka hanya sore hari ketika mama sedang masak dan bapak nonton tv. Sepi
sekali rumahku. Terasa tak ada kehidupan disini. Aku memulai. Aku dekati adik
laki-lakiku. Aku buat dia marah dan berteriak dengan cara mengganggu hal yang
dia kerjakan. Aku dimarahi mama, aku menuduh adik perempuanku, adik perempuanku
marah. Ahh…… akhirnya rumah ini tak sepi. Aku senang ketika mama berteriak
marah, ketika kita bertiga dikejar-kejar gara-gara berisik. Beginilah
kehidupanku. Sesuatu yang tak pernah orang lain miliki. Keadaan yang tak pernah
orang lain lakukan.
Kini aku diberi jalan
oleh Allah untuk mencari dimana jati diriku. Aku ditempatkan di suatu Universitas
Negeri di Bandung. Kali ini hanya ada aku. Tanpa mama, tanpa bapak, tanpa
adik-adik nakalku. Sering aku merasa rindu teriakan mereka semua. Suasana rumah
yang tak pernah damai. Hingga pernah saat itu mama berkata “Nah, kenapa tak seperti ini? Damai. Tenang.
Akur. Jadi mama tak perlu capek teriak-teriak” itu terucap saat kami
benar-benar tak punyai konflik. Namun terasa aneh. Seringkali adik-adikku
berkata ketika mama menelpon. “Ami kapan
pulang? Sepi gada Ami. Sekarang yang dimarahin mama cuman berdua” itu kata
adik perempuanku. “Ami kapan pulang?
Zulfi pengen main naik motor” itu kata adik bontotku, karna hanya aku dan
Bapak yang bisa mengendarai motor. Bapakku sekarang bekerja di Bandung. Dia
pulang ke rumah sektiar 1 kali seminggu. Adik-adikku memanggilku “Ami”
begitupun sebaliknya. Kami tak pernah menggunakan kata “kakak-ade” atau
sebagainya. Mungkin karna terlalu nyaman dan agar tidak ada batasan.
Mama, Bapak. Taukah? Aku
selalu melamun, selalu berpikir kenapa aku tak bisa seperti mereka teman-temanku?
Ketika mereka ingin sesuatu langsung dikabulkan. Ketika mereka berulang tahun,
keluarganya ikut merayakan. Mungkinkah aku merasa iri ? tidakkah aku cukup
bersyukur?. Maaf aku sempat berpikir seperti itu. Saat itu aku hanya melihat
mereka dari satu sisi dimana ketika mereka tengah bahagia. Aku yakin mereka tak
akan mampu sekuat aku ketika hal yang paling menyakitkan datang beriringan
secara bertubi-tubi. Jika kebahagiaan mereka yang aku inginkan, aku yakin suatu
hari nanti aku juga pasti akan dapatkan, tapi aku sangat yakin mereka tak akan
pernah memiliki kehidupan yang begitu asik seperti kehidupan yang aku lalui
bersamamu keluargaku. Aku terlalu
bahagia menjadi anakmu. Aku begitu bersyukur menjadi anakmu. Ketika orang lain
tak mampu untuk mengaji, aku sedikit lebih maju dari mereka karna ajaranmu.
Ketika orang lain tak cukup tangguh untuk bertahan, aku menjadi sedikit lebih
gagah dan kokoh ketika badai mulai kujumpai didepan sana itu juga karnamu.
Ketika orang lain hanya tahu bagaimana rasanya berbahagia, ketika itu aku akan
lebih tau bagaimana menghadapi jurang kesedihan dan melaluinya itu karnamu.
Ketika orang lain hanya tahu bagaimana caranya menikmati, aku justru lebih tau
bagaimana cara memperoleh dan berbagi dan itu semua karenamu. Kini aku tak akan
pernah merasa iri terhadap apa yang mereka punya. Karna hanya dengan memiliki
apa yang aku punya dan apa adanya aku, aku sangat bahagia asalkan masih,tetap
dan selalu bersamamu keluargaku. Aku hanya akan menjadi diriku. Mempertahankan
kelebihanku dan memperbaiki kekuranganku.
Metamorfosa
Seorang Ami :
Amye’s
Family :
AND THEY ARE THE POWER OF MY LIFE














