Amye's Dream Kingdom

  • HOME
  • LIFE and ADVENTURE
  • MUSIC
  • FIKSI
  • EDUCATION

Senin, 28 Maret 2016

Menatap Merpati

 Dimi     07.44     No comments   


Hai pagi, terang sekali hari ini tapi tetap sejuk. Salam hangatku padamu semesta.
Hai langit, birumu begitu menawan. Kulihat kau asik berkolaborasi dengan gumpalan awan putih.
Bolehkah aku menitipkan rindu pada seekor merpati itu? Kali ini dia terbang begitu tinggi dan aku sulit tuk menggapainya.
Tapi bukan. Bukan karna sulit tuk gapai merpati itu, hanya saja aku masih terpenjara dibalik kaca tebal yang tak mampu aku pecahkan untuk kemudian menembusnya keluar.
Jika saja aku memecahkan kaca itu, aku tak yakin semua akan baik-baik saja.
Tapi jika aku diam dan hanya menatapi kaca itu, maka aku tak akan pernah tau apa yang seringkali terjadi diluaran sana tentang si merpati itu.
Sulit sekali aku memecahkan kaca ini. Berusaha, berusaha dan berusaha yang hanya aku lakukan. Entah karna kaca ini terlalu tebal atau karna aku salah cara untuk pecahkannya.
Sempat aku merasa lelah tuk pecahkan kilauan tebal dihadapanku ini. Sempat aku hanya terkujur kaku menatapnya. Aku mencoba untuk berteriak. Teriakan yang sangat lantang berharap orang diluar sana mendengarku. Namun nihil. Tak seorangpun bisa mendengarku diluar sana.

Kini, aku hanya diam menatapmu dan benar-benar MENYERAH. 
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Selasa, 26 Januari 2016

I am Your Admirer

 Dimi     00.35     No comments   


Bermula dari tatap kini aku ingin mengisi sebagian hidupku dengan menulis. Menuliskan tentangku, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Tentangku yang hanya bisa menatap dan memperhatikanmu dari belakang tirai layaknya orang Bodoh. Tentang perasaanku yang hanya aku simpan dalam diamku. Memendamnya tanpa bicara, setia menyimpannya meski terkadang luka turut hadir, menyembunyikannya meski air menetes titik demi titik di pelupuk mata. Ingin memberanikan diri namun terlalu ciut untuk berucap. Kini, aku hanya bisa menuliskannya.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Jumat, 22 Januari 2016

GITHUB Groupware

 Dimi     00.46     No comments   

“Berbagi tidak selamanya merugi”
Hahaha... kalimat diatas hanya sebatas gabungan kata dengan makna cukup besar. Tapi bergantung juga pada orang yang memaknainya. (selingan semata).

Sekarang, aku ingin sedikit berbagi tentang penggunaan salah satu Groupware yang cukup populer untuk membantu khususnya bagi para Programer-progamer kece nan aduhai yang berada di tempat yang berbeda namun mereka masih bisa saling bekerja untuk mencapai tujuan yang sama (HIDUP NGODING. “apaan sih?? :/ ”).

Salah satu Groupware yang pengen aku share adalah GitHub. Ada yang tau apa itu GitHub?? Sebagian dari kalian para pembaca mungkin sudah tau yaa... jd gausah dijelaskan lagi. Hahaha. Engga deng, aku bakal kasih tau nih apa itu GitHub. Tapi sebelum ke pengertian GitHub kita pertu lau dulu apa itu Git. Git adalah sebuah Version Control System (VCS) yang digunakan dalam tim pengembangan perangkat lunak untuk bekerja bersama. Github adalah  software Hosting untuk proyek open source  yang menggunakan Tool  System revisi kontrol Git (Adiputra, 2015). Simplenya, GitHub ini merupakan sebuah jejaring sosial untuk para pembuat atau pengembang suatu project. Nah lewat GitHub ini, kita bisa saling share berupa kodingan pekerjaan yang akan dikerjakan secara bersama-sama meski di tempat berbeda dengan jarak sejauh apapun itu.

Yuk Cekidot ke langkah-langkah penggunaannya :

1.      Pembuatan akun GitHub

gambar 1 situs untuk membuka GitHub

Untuk pembuatan akun, kunjungi situs www.github.com. Lalu klik SignUp untuk registrasi awal (membuat akun GitHub). Selanjutna akan muncul form pengisian data seperti pada Gambar 2.

gambar 2 pengisian data untuk akun GitHub

Lalu pilih personal plan. Kalo aku disini pilih yg 0/month.

gambar 3 pilihan plan

gambar 4 pengisian data


Nah, setelah itu kamu bisa cari temen2 (partner kerja) kamu pengguna GitHub lainnya.

gambar 5 pencarian teman



Pembuatan akun sudah rebessss....
1.      Unduh SourceTree
SourceTree merupakan sebuah layanan atau salah satu tools Git untuk mengakses GitHub dengan GUI. Untuk mengunduh SourceTree, https://www.sourcetreeapp.com/download/ .

2.      Membuat Repository
Kita bisa bikin repository baru pada website www.github.com setelah kita melakukan login dengan akun yang sudah kita buat tadi. Tahap ini digunakan untuk membuat folder project yang akan kita kerjakan secara tim. Oh iya, sebelumnya jangan lupa untuk konvirmasi GitHub di email kalian yaa...

gambar 6 tampilan github setelah kita konfirmasi email


Klik “ + New Repository ” lalu kita akan dihadapkan dengan pengisian data pembuatan repository baru seperti pada gambar 7.
gambar 7 new repository


Kenapa pada pembuatan new repository aku pilih public? Karena agar project yang aku bikin ini bisa dilihat atau diakses juga oleh partner kerjaku nanti.

gambar 8 tampilan setelah selesai membuat new repository

Yeeeaaayyy.... baru selesai bikiin repository nya T_T .... Yuk lanjut ke langkah selanjutnya yoooo...

1.      Invite Participant
Untuk mencapai tujuan kerja, jangan lupa untuk mengajak participan yang akan diajak bergabung sebagai partner agar bisa saling mengontrol satu sama lain pekerjaan yang dikerjakan.

2.      Buat Folder
Langkah selanjutnya adalah kita membuat folder di PC kita bebas mau disimpan dimana.

gambar 9 penyimpanan project


1.      Clone Repository
Copy link/SSH/http repository yang ada pada GitHub setelah kita selesai membuat repository baru misalnya https://github.com/rpalmin26/belajarGitHub.git . Lalu open app SourceTree seperti pada gambar 10.

gambar 10 pembuatan Clone

a.      Klik Clone/New untuk membuat clone yang baru
b.      Paste link yang sudah di copy tadi ke Source Path/URL
c.       Pada destination Path, kalian bisa pilih di folder mana kalian akan simpan project tersebut. Kalo aku, aku simpan di Folder “COBAGIT” yang sebelumnya aku bikin.
*folder yang digunakan harus folder yang kosong
d.      Klik Clone. Tunggu sampai proses selesai

gambar 11 proses pembuatan Clone

gambar 12 proses Clone Sukses


1.      Membuat File
Buat file (file .txt, .c, .jpg, .png atau apapun) yang akan kita pull/upload di folder yang sudah kita buat tadi.
gambar 13 membuat file

1.      Commit File

gambar 14 tampilan setelah file dimasukkan dalam folder

Jika sudah menambahkan file di folder yang sudah di buat, maka file-file tersebut akan ada di bagian A. Lalu ceklis file yang ada di A secara otomatis file2 tersebut akan pindah ke bagian B. Atau jika tidak, DRAG file yg di A ke bagian B. Setelah itu, Commit file2 tersebut sebagai tanda adanya perubahan pada folder atau file, seperti pada Gambar 15.

gambar 15 commite file

1.      Push File (unggah)
Setelah selesai commit, langkah selanjutnya adalah Push jika kalian akan mengupload file ke repository. Setelahnya klik push file akan terunduh. Dan file bisa di pull (unduh) oleh participant yang sudah kalian semua tentuin.



Oh iya Gaiissss.... perlu diingat. “Sebelum kita melakukan PUSH, kita harus melakukan PULL dulu yaaa”


Nah kek gitu gaiss segelintir tentang GitHub. Semoga bisa membantu dan berguna yaaa...
Dadaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh...............

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sabtu, 28 November 2015

Aku Mencintai

 Dimi     07.26     No comments   


Mencintai. Rasanya kata itu sudah tidak asing lagi. Aku yakin, setiap orang pasti pernah merasakannya. Usiaku kini 21. Dulu aku pernah mencintai seorang pria layaknya remaja-remaja lain. Saat itu aku berusia 17. Masa yang terbilang normal untuk jatuh cinta. Indahkah kisah cinta saat itu? Jika ada yang bertanya seperti itu, maka jawabanku adalah “Ya”. Namun, bahagia itu hanya bertahan sekitar 2tahun hingga akhirnya kami memutuskan untuk berhenti karena sesuatu hal.
Sejak itu aku mulai terbiasa sendiri. Sepikah aku? Akupun tak bisa munafik. Tapi, yasudahlah ini yang terbaik. Jika hal ini tidak terjadi, mungkin saja aku tak akan merasakan rasa yang begitu hebat dari sebelumnya. Rasa yang entah apakah orang lain pernah merasakannya atau tidak. Rasa itu hadir di awal bulan Februari’13.
Aku kira, aku tidak akan pernah mencintai lagi setelah kejadian menyakitkan sebelumnya. Tapi Tidak, sampai akhirnya aku melihat ke arahmu. Perasaanku sungguh konyol. Aku pendam perasaan itu sebisa mungkin. Membiarkannya tetap tumbuh hanya dalam hatiku. Apa aku jatuh cinta? Entahlah, aku tak berani untuk memutuskan. Aku terlalu takut untuk jatuh cinta saat itu. Aku takut jatuh dalam arti sebenarnya. Jadi, aku biarkan saja rasa itu hanya sebatas ada.
Mungkin kamu tak pernah tau seperti apa rasanya saat aku berhadapan denganmu, saat aku berbicara denganmu, saat kamu memanggilku dan saat kamu duduk disampingku. Aku berusaha tuk tampak biasa saja.





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Selasa, 10 November 2015

ALL ABOUT AMMI

 Dimi     06.55     No comments   

Bermula dari catatan kosong, kertas itu teramat putih bersih. Mamaku punya cerita sendiri tentangku. Ia selalu membawaku kemanapun ia pergi. Dijagalah aku dalam perutnya. Asupan gizi yang ia beri lewat makanan semakin membuatku tumbuh tiap bulannya. Aku memakannya lahap “nyam nyam nyam”. Ia tak pernah sembarangan memasukkan makanan dan minuman kedalam tubuhku. Makanan yang ia makan tak jauh dari kriteria 4 sehat 5 sempurna. Minuman yang ia minum hanya sebatas air putih dan minuman buah agar kesehatanku tetap terjaga.
Perut mama semakin besar, tak pernah terbayangkan olehku seberat apa waktu itu mama menggendongku didalam perutnya. Sembilan bulan sudah aku dalam perutnya hingga sudah saatnya aku muncul. Perut mama semakin terasa sempit karna tubuhku yang semakin tumbuh. Hingga pada saat itu di “Kamis, 2 Juni 1994” mama bertarung dengan maut. Aku berharap saat itu cepat-cepat keluar dari perutnya agar sakit yang ia rasakan tidak terlalu lama.
Dan kemudian “huaaww huaaww huaww” tangisanku terdengar olehnya. Bapakku segera menghampiri tubuh mungilku. Didekatkannya suara indah itu di sebelah kuping kananku. Kumandang adzan bapakku begitu merdu membuat aku berhenti menangis. Begitu tenang. Dilanjutkannya suara qamat ditelinga kiriku. Sambil menangis bapakku berkata “anak kita perempuan, dia cantik, bersih, wajahnya bercahaya. Keinginanmu terkabul”. Ya keinginan mama kini terkabul. Betapa bahagianya ia melahirkanku setelah lama ia mendambakan seorang anak perempuan yang begitu mungil ketika bapak sangat mendambakan seorang anak laki-laki dari Rahim seorang mama. Meski begitu, bapak tetap bahagia akan kelahiranku. Kecintaan bapak pada mamaku ia tanamkan pada namaku. Ia memberiku nama “Rahmi Mulyani” yang berarti “Kasih Sayang Mulia” Amin. Itulah do’a yang mereka simpan pada namaku, berharap aku menjadi anak yang penyayang dan menyayangi dengan setulus-tulusnya.

Waktu berlalu begitu cepat setelah kelahiranku. Kini aku menginjak usia 5 tahun. Mama dan Bapak banyak mengajariku berbagai hal. Dihukumnya aku ketika aku Shalat tak tepat waktu. Dihukumnya aku ketika aku menolak untuk mengaji. “Mereka Galak Sekali” pikirku.  Aku disekolahkan di TK.Aisyah. sebuah taman kanak-kanak Islam. Disana aku belajar mengaji, tata cara Shalat, membaca, berhitung, bernyanyi, menari dan masih banyak lagi yang aku pelajari. Aku sudah sebesar ini, kini aku mulai banyak permintaan. Merengek-rengek meminta sesuatu. Aku ingin seperti anak-anak lain. Aku ingin ulang tahunku dirayakan, aku ingin dibelikan sepeda, aku ingin diantar jemput ke sekolah. Tapi sebelum keinginan-keinginan itu muncul, mereka lebih dulu berkata “Mi, kita bikin nasi tumpeng yu. Nanti nasinya dibagi-bagi sama temen-temen ami di deket rumah nenek. Nanti kalian ngaji bareng, jadi ami dido’akan banyak orang J”. “Mi, ayo belajar naik sepeda sama bapak nanti sore. Tapi pake sepeda Teh Ai (kakak sepupu) dulu. Nanti kalo sudah mahir, Mama sama Bapak belikan ami sepeda baru”. “Mi, nanti pulangnya naik becak aja ya. Mama sama Bapak tunggu di toko. Buat ongkosnya nanti ami ke toko dulu”. Teringat semua perkataan itu, aku akhirnya tak berani meminta. Padahal aku ingin sekali ulang tahunku dirayakan. Tiup lilin, potong kue, ada yang nyanyi, dicium Mama dicium Bapak, dikasih kado. Tapi setiap tahunnya aku hanya merayakan bareng nenek, kakek dan teman-teman dekat rumah nenek saja. Jangankan bisa merayakan Ulang Tahun bersama mereka, Mengucapkan Selamat Ulang Tahun saja rasanya tak pernah.



Inilah  nenekku dan Ami si tomboy .

Di 5 Tahun Pertama, mama harus berjuang kembali untuk kelahiran adikku. Akhirnya aku akan punya teman. Dan jeng-jeng-jeng… dialah adik perempuanku dengan nama “Fini Dwi Fajraini” . Masa SD ku kini tiba. Ami si kecil mungil nan lugu berubah menjadi Ami si kecil nan nakal. Aku memang seorang perempuan tapi kelakuanku seperti anak laki-laki. Orang-orang menyebutku “anak tomboy’ saat itu. Mungkin karena aku sering berpakaian seperti laki-laki dengan kaos dan celana pendek selutut yang longgar juga rambutku yang selalu pendek karena mama sering memotongnya dengan alasan “agar tidak panas”. Aku sedikit heran memang, bukankah dulu Mama inginkan anak perempuan? Tapi kenapa banyak dari pakaianku tak seperti pakaian perempuan? Pake rok misalnya. Atau memanjangkan rambutku tergerai agar bisa dikepang atau diikat. Kini aku merasa semakin mandiri. Berangkat sekolah sendiri, pulang sekolah sendiri, makan sendiri, belajar sendiri, tapi kalo ada PR matematika aku kasihkan ke Bapakku biar bapak yang kerjakan dan aku tidur agar subuhnya bisa bangun dan diajarkan Matematika yang Bapak kerjakan. Pulang sekolah aku berkunjung kerumah hanya untuk ganti pakaian, makan dan solat (dan tidak ada siapa-siapa di rumah), baru kemudian pergi ke rumah nenek untuk bermain dan tidur siang. Begitulah hal yang aku lakukan selama di Sekolah Dasar. Mama dan Bapak tak pernah cukup waktu untuk berada terus bersamaku karna mereka harus menghabiskan waktu setengah hari di toko. Orangtuaku adalah seorang pedagang. Mereka mempunyai toko pakaian. Aku juga sesekali ikut membantu saat hari libur.
Aku bosan. Yang kujumpai hanyalah nenek tersayang. Dia sudah seperti seorang Ibu untukku. Karna Mama harus berfokus pada anak barunya. Adikku semakin tumbuh. Di 5 tahun keduaku, mama melahirkan seorang anak laki-laki. Mama bertarung untuk yang ketiga kalinya. Dia benar-benar hebat. Adik laki-lakiku diberi nama “Muhammad Zulfiana Ilyas”. Karna aku sudah dianggap cukup besar, meski baru kelas 5SD aku dipercaya mama untuk membantu menjaga jagoan yang satu ini. Adikku yang paling bontot, lebih sering pergi bersamaku. Aku selalu menghabiskan waktuku setelah sepulang sekolah dengannya dan mama percaya aku menjaganya. Kadang Aku juga ditemani adik perempuanku. Aku semakin sering menggunakan waktuku dengan mereka di rumah. Kini aku sudah jarang bermain di rumah nenek. Tapi sesekali kami bertiga kesana. Adik-adikku semakin lama semakin tumbuh begitupun denganku. Kini mama menaruh perhatiannya pada adik-adikku. Begitupun Bapakku. Dia senang sekali dengan kehadiran Zulfi.
Aku memasuki masa SMP. Ketika masa ini, aku lebih sering menghabiskan waktu bersama nenekku. Karna adik-adikku juga sudah mulai bermain sendiri. Mama dan Bapak sudah mengajari kami hidup mandiri sejak kecil meski tidak diajarkan lewat perkataan secara langsung. Mulai dari sini kehidupanku terasa semakin sendiri. Ketika ternyata nenekku meninggalkan aku untuk selamanya. Semakin sendiri saja aku. Tak ada tempat pijakan. Hanya dirumah tanpa kujumpai Mama dan Bapak disana tiap kali pulang sekolah. Kebiasaan seperti ini berlanjut hingga aku SMA. Aku bertemu mereka hanya sore hari ketika mama sedang masak dan bapak nonton tv. Sepi sekali rumahku. Terasa tak ada kehidupan disini. Aku memulai. Aku dekati adik laki-lakiku. Aku buat dia marah dan berteriak dengan cara mengganggu hal yang dia kerjakan. Aku dimarahi mama, aku menuduh adik perempuanku, adik perempuanku marah. Ahh…… akhirnya rumah ini tak sepi. Aku senang ketika mama berteriak marah, ketika kita bertiga dikejar-kejar gara-gara berisik. Beginilah kehidupanku. Sesuatu yang tak pernah orang lain miliki. Keadaan yang tak pernah orang lain lakukan.
Kini aku diberi jalan oleh Allah untuk mencari dimana jati diriku. Aku ditempatkan di suatu Universitas Negeri di Bandung. Kali ini hanya ada aku. Tanpa mama, tanpa bapak, tanpa adik-adik nakalku. Sering aku merasa rindu teriakan mereka semua. Suasana rumah yang tak pernah damai. Hingga pernah saat itu mama berkata “Nah, kenapa tak seperti ini? Damai. Tenang. Akur. Jadi mama tak perlu capek teriak-teriak” itu terucap saat kami benar-benar tak punyai konflik. Namun terasa aneh. Seringkali adik-adikku berkata ketika mama menelpon. “Ami kapan pulang? Sepi gada Ami. Sekarang yang dimarahin mama cuman berdua” itu kata adik perempuanku. “Ami kapan pulang? Zulfi pengen main naik motor” itu kata adik bontotku, karna hanya aku dan Bapak yang bisa mengendarai motor. Bapakku sekarang bekerja di Bandung. Dia pulang ke rumah sektiar 1 kali seminggu. Adik-adikku memanggilku “Ami” begitupun sebaliknya. Kami tak pernah menggunakan kata “kakak-ade” atau sebagainya. Mungkin karna terlalu nyaman dan agar tidak ada batasan.
Mama, Bapak. Taukah? Aku selalu melamun, selalu berpikir kenapa aku tak bisa seperti mereka teman-temanku? Ketika mereka ingin sesuatu langsung dikabulkan. Ketika mereka berulang tahun, keluarganya ikut merayakan. Mungkinkah aku merasa iri ? tidakkah aku cukup bersyukur?. Maaf aku sempat berpikir seperti itu. Saat itu aku hanya melihat mereka dari satu sisi dimana ketika mereka tengah bahagia. Aku yakin mereka tak akan mampu sekuat aku ketika hal yang paling menyakitkan datang beriringan secara bertubi-tubi. Jika kebahagiaan mereka yang aku inginkan, aku yakin suatu hari nanti aku juga pasti akan dapatkan, tapi aku sangat yakin mereka tak akan pernah memiliki kehidupan yang begitu asik seperti kehidupan yang aku lalui bersamamu keluargaku.  Aku terlalu bahagia menjadi anakmu. Aku begitu bersyukur menjadi anakmu. Ketika orang lain tak mampu untuk mengaji, aku sedikit lebih maju dari mereka karna ajaranmu. Ketika orang lain tak cukup tangguh untuk bertahan, aku menjadi sedikit lebih gagah dan kokoh ketika badai mulai kujumpai didepan sana itu juga karnamu. Ketika orang lain hanya tahu bagaimana rasanya berbahagia, ketika itu aku akan lebih tau bagaimana menghadapi jurang kesedihan dan melaluinya itu karnamu. Ketika orang lain hanya tahu bagaimana caranya menikmati, aku justru lebih tau bagaimana cara memperoleh dan berbagi dan itu semua karenamu. Kini aku tak akan pernah merasa iri terhadap apa yang mereka punya. Karna hanya dengan memiliki apa yang aku punya dan apa adanya aku, aku sangat bahagia asalkan masih,tetap dan selalu bersamamu keluargaku. Aku hanya akan menjadi diriku. Mempertahankan kelebihanku dan memperbaiki kekuranganku.

Metamorfosa Seorang Ami :












                Amye’s Family :

 
 
 
 


 AND THEY ARE THE POWER OF MY LIFE


Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Popular Posts

  • Pertama Kali
    Disana di ujung lorong ruangan sempit, pandanganku terfokus pada sosok yang tengah berjalan lurus ke arahku. Tidak, lebih tepatnya ...
  • GITHUB Groupware
    “Berbagi tidak selamanya merugi” Hahaha... kalimat diatas hanya sebatas gabungan kata dengan makna cukup besar. Tapi bergantung juga pada...
  • Aku Hadir Kembali Sebagai Aku
    Kini aku hadir kembali sebagai aku. Aku hadir dengan sejuta Mimpi dan Khayalan. Mimpi yang tak pernah dimengerti siapapun. Mimpi yang...
  • I am Your Admirer
    Bermula dari tatap kini aku ingin mengisi sebagian hidupku dengan menulis. Menuliskan tentangku, tentang perasaanku yang tak pernah sam...
  • Tulisanku
    Tulisanku. Ia tak pernah lepas dari sendunya musik dan syair lagu yang kudengar,, tak lepas dari apa yang aku lihat terlebih tak pernah ...
  • Aku Mencintai
    Mencintai. Rasanya kata itu sudah tidak asing lagi. Aku yakin, setiap orang pasti pernah merasakannya. Usiaku kini 21. Dulu aku pernah me...
  • Ingin ku Susun Catatan Baru
    Sebelumnya, aku punyai catatan indah yang kini sudah sangat usang. Catatan yang kini rusak bahkan tak pernah ingin aku perbaiki catatan itu...
  • Tatapan ini Biar Ku Gantungkan dalam Harap
    Kaki itu semakin sering berjalan dihadapanku. Perlahan sering kuikuti derap langkahnya dari belakang tirai tanpa diketahui oleh Si Pemi...
  • Aku Mulai Berlabuh
    Aku yang tak pernah berhenti. Aku begitu malu tuk bersikap. Aku mulai berani. Menga...
  • ALL ABOUT AMMI
    Bermula dari catatan kosong, kertas itu teramat putih bersih. Mamaku punya cerita sendiri tentangku. Ia selalu membawaku kemanapun ia perg...

Recent Posts

Unordered List

Pages

  • Beranda

Text Widget

Blog Archive

  • ▼  2016 (9)
    • ▼  Agustus (2)
      • Senapan Angin
      • Aku Mulai Berlabuh
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (3)
    • ►  November (3)

Sample Text

Copyright © Amye's Dream Kingdom | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates